Sunday, September 17, 2017

Have a Traveling Break, Have a KitKat


Halo semuanya......

Kalian pasti tahu kan Kitkat? Iya, itu coklat produksi Nestle yang terkenal dengan slogannya "Ada Break Ada KitKat".

Yes, bulan September-Oktober 2017 lalu, KitKat mengadakan kuis kompetisi foto instagram dengan tema #KitKatIndoBreakSpot yaitu menunjukkan travel spot unik di Indonesia. Dan seperti biasa, sebagai Quiz Hunter, gw ikutan dong kuis KitKat ini, dan puji Tuhan, gw menang cuy. Horeeeeee.

Hadiah dalam kuis ini adalah:
1. Dua orang pemenang mendapatkan liburan 4 hari 3 malam gratis ke Tana Toraja dan masing-masing pemenang boleh mengajak satu orang teman.

2. Dua orang pemenang mendapatkan liburan 4 hari 3 malam ke Wakatobi dan masing-masing pemenang boleh mengajak satu orang teman.


Nah, gw sendiri mendapatkan liburan gratis ke Tana Toraja tanggal 20-23 Oktober 2017.


Pengumuman pemenang di instagram kitkat_id


Ini foto gw yang menang, bisa dilihat di instagram @brnadbayu

Gw bersyukur banget, dari 2000 orang peserta yang upload foto untuk kuis ini, akhirnya gw menjadi pemenang nya. :)

Kalian bisa baca cerita mengenai perjalanan gw #CityBreak #KitKatIndoBreakSpot ke Tana Toraja di post ini: Tana Toraja: Mistis dan Menakjubkan.


Terima kasih sudah membaca.

Salam senyum,
Bayu



Saturday, September 16, 2017

Sumba yang Eksotis


Hai, apa kabar kalian semuanya?
Semoga dalam keadaan baik ya...

Setelah lama gak traveling, akhirnya tanggal 1-4 September 2017 yang lalu gw menjelajahi Sumba.
Awalnya gak ada niat buat berangkat ke Sumba. Tapi berhubung voucher travel hadiah dari kuis Belvita belum dipakai, jadi gw memutuskan untuk menggunakan voucher tersebut untuk membeli tiket pesawat ke Sumba. (Baca: Winner Quiz #RayakanPagimu Belvita)

Well, siapa yang sudah pernah ke Sumba? Jangan salah ya, Sumba itu berbeda dengan Sumbawa. Kalau Sumba itu terletak di Nusa Tenggara Timur (NTT), sementara Sumbawa ada di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Indonesia itu memang memiliki banyak tempat yang seru. Salah satunya ya tanah Sumba ini yang terkenal sebagai negeri eksotis, mulai dari pesona alamnya, hamparan luas padang savana, jalannya yang berliak-liuk, langitnya yang benderang, pantainya yang menggoda hingga kearifan budaya lokalnya.

Tanggal 1 September 2017, gw berangkat dari Bandara Soekarno Hatta menggunakan pesawat Batik Air menuju Bandara Ngurah Rai, Bali. Oh iya, perjalanan ke Sumba ini, gw menggunakan jasa open trip Lyladventure. Di Bali, gw bertemu dengan teman-teman baru yang akan berangkat bersama dalam open trip ini menuju Sumba. Setelah transit sebentar sekitar 1 jam di Bali, gw berangkat lagi menggunakan pesawat Wings Air tipe ATR menuju Bandara Tambolaka, Sumba Barat Daya. Perjalanan udara dari Bali ke Tambolaka menghabiskan waktu sekitar 1,5 jam.

Sesampai di Bandara Tambolaka, kami bergegas menuju ke hotel untuk check-in sekaligus makan siang. Setelah itu kami langsung menuju ke Desa Adat Ratenggaro.


Desa Adat Ratenggaro

Jika ingin merasakan kembali jaman megalithikum, kunjungilah Desa Adat Ratenggaro. Desa ini berjarak sekitar 50 km dari Tambolaka, Sumba Barat Daya. Lokasi persis di pinggir pantai. Jadi kita bisa menikmati alam sekaligus menikmati budaya adat setempat. Ratenggaro merupakan gabungan dari kata 'Rate' yang berarti kuburan dan 'Garo' yang berarti orang-orang Garo. Jadi arti Ratenggaro adalah Kuburan bagi orang-orang Garo.


Desa Ratenggaro yang belokasi di pinggir pantai

Di Desa Ratenggaro ini, kita bisa menemui banyak kubur batu yang memiliki ukiran dan pahatan yang unik sehingga semakin menambah kesan magis. Keunikan lainnya ada pada rumah adatnya (Uma Kelada) yang memiliki ciri khas menara menjulang tinggi mencapai 15 meter, dimana tinggi rendahnya atap didasarkan atas status sosial mereka.

Suasana Desanya sangat asri dan nyaman. Kita juga bisa menemui anak-anak kecil berlari dan bermain bersama kuda dan alam, tidak seperti anak-anak kota yang sibuk bermain dengan gadget.


Anak kecil menunggang kuda


Pantai Bwanna

Pantai Bwanna (baca: Banna) adalah sebuah surga tersembunyi di Sumba Barat Daya. Lokasinya sangat terpencil dan membutuhkan "effort" yang lebih untuk mencapainya. Untuk menuju ke pantai ini, dibutuhkan kurang lebih 2 jam perjalanan darat menggunakan mobil dari Tambolaka. Setelah sampai tujuan, kita harus melewati jalur "tracking" jalanan menurun yang cukup berat untuk mencapai bibir pantai.

Tracking menuju Pantai Bwanna

Yang unik dari Bwanna adalah adanya lubang besar seperti pintu gerbang yang berada di tengah tebing bebatuan. Lubang tersebut bukan buatan manusia, tetapi terjadi secara alami karena terkikis oleh ombak laut.

Pantai Bwanna

Selain bisa menikmati keindahan tebing dan pasir pantai yang halus, kita juga bisa menikmati matahari tenggelam di Bwanna. Sore itu, gw dan teman-teman beruntung mendapatkan langit yang cerah sehingga kami bisa menikmati sunset di Bwanna. Sungguh indah sekali!


Sunset di Bwanna

Danau Weekuri

Di hari kedua, setelah sarapan kami pun check-out dari hotel, karena sore nanti kami akan pindah ke Sumba Timur. Namun pagi ini tujuan kami yang pertama adalah menuju Danau Weekuri yang berlokasi di Kodi Utara, Sumba Barat Daya.
Danau Weekuri ini sangat unik karena air yang dimiliki danau ini adalah air asin. Ya, sebenarnya Danau Weekuri ini merupakan sebuah laguna yang terbentuk dari air laut.

Danau Weekuri

Air di danau ini sangat jernih berwarna hijau kebiru-biruan, membuat kita yang melihat nya pasti ingin segera melompat ke dalam danau. Tapi harus berhati-hati, karena di danau ini banyak bulu babi, jangan sampai menginjaknya ya!

Kita juga bisa menikmati keindahan laut dengan berjalan kaki menyusuri bukit karang yang menjorok ke laut lepas. Batu-batu karang di sini sangat tajam, jadi kita harus berhati-hati ketika berjalan. Dari atas bukit, kita bisa menikmati panorama keindahan Weekuri.

Danau Weekuri dari atas bukit



Air Terjun Lapopu

Setelah puas berenang di Danau Weekuri, kami melanjutkan perjalanan kembali. Destinasi berikutnya masih berbau basah-basahan, kami akan berenang di Air Terjun Lapopu.

Air Terjun Lapopu adalah air terjun yang berlokasi di Desa Hatikuloku, Wanokaka, Sumba Barat. Air terjun ini berlokasi di dalam kawasan Taman Nasional Menupeu Tanah Daru dan Laiwangi Wanggameti. Setelah tiba di pos, kita akan berjalan kaki menyusuri pinggir sungai untuk menuju lokasi air terjun.


Menyusuri pinggir sungai menuju air terjun Lapopu

Air Terjun Lapopu memiliki air yang berwarna hijau tosca, yang membuat orang yang melihat nya pasti ingin segera berenang dan menikmati kesegaran airnya. Tapi hati-hati saat berenang, dan berjalan di dalam air karena batu-batuan nya sangat licin.

Air Terjun Lapopu


Sunset di Bukit Warinding

Beranjak dari Lapopu, kami melanjutkan perjalanan menuju Sumba Timur yang menghabiskan waktu kurang lebih 3-4 jam. Sepanjang perjalanan, mata kita akan selalu dimanjakan dengan keindahan alam Sumba, jadi kalau bisa jangan tidur ya sepanjang perjalanan. Hehehehe.

Sebelum ke hotel, kami mampir ke Bukit Warinding untuk menikmati matahari tenggelam. Bukit Warinding ini adalah hamparan padang rumput yang berbukit-bukit. Lokasinya berada di ketinggian 100-200 meter di atas permukaan laut. Di bukit ini, kita bisa menikmati keindahan dan kesejukan alam sambil merasakan semilir angin. Sore itu gw dan teman-teman juga beruntung bisa menikmati semburat jingga dari senja di kala sang surya tenggelam.

Sunset di Bukit Warinding



Sunrise di Bukit Warinding

Di hari ketiga, pagi-pagi buta kami sudah bangun guna mengejar matahari terbit di Bukit Warinding. Kita bisa menyaksikan bagaiman matahari bangun dari tidurnya, dan menampakkan dirinya malu-malu ke dunia. Sungguh pemandangan yang menakjubkan.



Di Bukit Warinding ini, kita juga bisa menemukan anak-anak kecil yang sering bermain atau menggembalakan ternaknya di bukit ini. Beberapa wajah anak kecil terlihat sangat familiar. Ya, wajah-wajah mereka sudah sering masuk ke sosial media instagram. Seperti terlihat di foto bawah ini, gw pun mengambil foto bersama Lidya, Vira, Tanto, dan anjing nya yang bernama Rudal.




Bukit Warinding memang sangat memanjakan mata dengan menyuguhkan pemandangan buki-bukit kecil yang indah. Dimana sejauh mata memandang, membuat gw merasa bangga dan bersyukur bisa menikmati keindahan alam Indonesia ciptaan Tuhan ini.


Pantai Watu Parunu

Tujuan berikutnya adalah Pantai Watu Parunu yang berlokasi di Desa lain Janji, Wulla Waijelu, Sumba Timur. Lokasinya memang cukup jauh, sekitar 135 km dari pusat kota Waingapu. Sepanjang perjalanan menuju pantai ini kita bisa menemukan hamparan savana dan kuda-kuda liar.


Savan dan kuda di Sumba


Sesuai dengan namanya, yang unik dari Pantai Watu Parunu adalah tebing batu putih yang berada di ujung pantai. Tebing ini terbentuk karena proses alam, jika dilihat seperti ukiran yang sengaja dibentuk oleh manusia. Kita bisa mencapai tebing batu ini dengan melewati batu berlubang seperti gerbang di pantai ini.



Tebing batu putih

Watu dalam bahasa Sumba berarti batu, sedangkan Parunu berarti berjalan menunduk. Hal ini berkaitan dengan lubang yang ada di pantai ini. Setiap orang yang melewati lubang tersebut akan berjalan dengan menunduk agar dapat melintasinya.

Lubang di Watu Parunu


Pantai Walakiri

Pantai Walakiri ini berlokasi sekitar 25 km dari pusat kota Waingapu. Pantai ini sangat landai dan tenang. Kita bisa menikmati Walakiri saat air laut surut, dimana kita bisa berjalan cukup jauh dari tepi pantai. Walakiri memiliki hutan bakau yang unik, sementara di pinggir pantainya kita bisa menemukan jajaran pohon kelapa untuk bersantai dan berteduh.


Bermain pasir di Pantai Walakiri

Keunikan lain dari Walakiri adalah jeni pasirnya. Di Walakiri, kita dapat menemukan dua jenis pasir pantai. Pasir di tepi pantai berwanra putih dan kasar, sementara jika kita berjalan jauh ke area air laut surut, kita akan menemukan pasir yang halus seperti bedak tapi keras dan padat.

Siluet pohon bakau di Walakiri

Banyak keluarga yang piknik di pantai ini. Bermain pasir pantai sambil menunggu matahari tenggelam. Kita bisa menikmati keindahan siluet dari pohon bakau di Walakiri saat matahari tenggelam. Sungguh pemandangan langit senja yang indah!
Sunset di Walakiri


Savana Puru Kambera
Lokasi Savana Puru Kambera ini sebenarnya dekat dengan Pantai Puru Kambera. Lokasi nya berada sekitar 24 km dari Kota Waingapu. Jadi kita bisa menikmati keindahahan laut dan padang savana secara sekaligus. Padang savana adalah salah satu tujuan yang menjadi daya tarik bagi wisatawan. Kita bisa menikmati rumput dan pepohonan yang mirip dengan Afrika. Jika beruntung, kita juga bisa menemukan kuda-kuda liar di savana ini. 
Savana dan Pantai Puru Kambera

Savana Puru Kambera
Desa Tenun Sumba Timur
Selain Savana Puru Kambera, destinasi di hari terakhir kami adalah mengunjungi desa tenun Sumba Timur. Proses pembuatan kain tenun Sumba ini sangatlah kreatif, dibuat dari bahan baku kapas dengan menggunakan teknik ikat dengan memanfaatkan daun gewang (daun palem) untuk menciptakan motif. Proses pembuatan nya pun selalu melibatkan campur tangan alam, seperti warna merah berasal dari akar mengkudu, warna hitam dari daun indigo, warna kuning dari kayu sogan, warna biru dari nila, dan warna coklat dari lumpur.
Proses pembuatan tenun Sumba

Proses menenun dan pembuatan motif kain Sumba ini memakan waktu kurang lebih dari 6 bulan hingga 3 tahun. Setelah proses tenun, prose motif dan pewarnaan selesai, kain akan diangin-anginkan selama sebulan lalu setelah itu dicelupkan ke dalam minyak kemiri. Lalu dikeringkan dan kemudian disimpan selama satu bulan agar warna semakin matang. Harganya mulai dari ratusan ribu hingga puluhan juta Rupiah, tergantung ukuran, jenis motif dan lama penyimpanan. Semakin lama disimpan maka harganya semakin mahal karena semakin matang warnanya.


Kain Tenun Sumba
Motif kain Sumba ini pun bermacam-macam, seperti motif kuda yang melambangkan kebangsawanan/keagungan, motif naga melambangkan kekuasaan, motif ayam melambangkan kehidupan wanita dan motif burung kakatua melambangkan persatuan.
Nah, itulah sekilas cerita perjalanan gw ke Sumba. Perjalanan yang seru dan menyenangkan. Selain bisa menikmati keindahan alam, gw juga mendapatkan kawan-kawan baru di perjalanan ini, saling berbagi cerita dan pengalaman. Kata-kata yang selalu gw bawa dalam perjalanan atau tarveling adalah: "There will always be a reason why you meet people. Either you need to change your life, or you're the one that will change theirs."
Kalian juga bisa melihat video singkatnya di link berikut:  A journey to sumba Island, atau bisa lihat video di bawah ini:



Terima kasih sudah membaca ya!
Semoga kita bisa bertemu suatu saat nanti.

Salam senyum,

Bayu


Saturday, April 1, 2017

Tentang Kehidupan




"Nobody has a perfect life. Everyone has their own problems. Some people just know how to deal with it in a perfect way. "


Saya, anda dan kita semua pasti pernah memberikan sebuah komentar atau beberapa komentar mengenai kehidupan seseorang. Baik positif maupun negatif. Mungkin kebanyakan negatifnya. Tolong jangan bilang tidak pernah, karena anda berarti sedang berbohong. Saya yakin itu.

Hidup saya, hidup anda, hidup dia, hidup mereka berbeda, kalaupun sama, tidak akan pernah sama persis. Kita tidak pernah saling tahu dan saling mengerti satu sama lain mengenai kehidupan kita sendiri. Hanya kita sendiri yang tahu detail bagaimana cerita kehidupan kita berjalan, dan tentu saja Tuhan yang paling tahu. Bahkan, keluarga dan sahabat paling dekat pun mungkin hanya 70% tahu.

Jadi sebagai teman  dan manusia, jangan pernah anda sok mengerti dan menerka-nerka kehidupan seseorang. Karena anda tidak pernah tahu apa yang dialami oleh orang tersebut.



Salam Senyum,

Bayu

Friday, December 23, 2016

Coldplay: Cold Melbourne, Play Sidney



"Look at the stars, look how they shine for you....
  and everything you do, yeah...they were all yellow..."


Siapa yang tidak mengenal penggalan lirik lagu yellow si Coldplay? Hampir sebagian besar manusia di muka bumi ini pasti tahu lagu ini. Kalau kamu belum tahu, coba deh googling sekarang juga.

Bisa dikatakan music taste masa remaja gw banyak dipengaruhi oleh Band asal Inggris ini. Gw suka dengan lirik lagunya yang menyiratkan banyak makna. Chris Martin emang jago soal merangkai kata yang menggambarkan suasana hati dia, tapi juga sesuai dengan suasana hati yang sering dialami semua manusia. Dan salah satu keinginan terbesar gw adalah pengen nonton konser Coldplay! Mungkin gak, mereka bakal konser di Indonesia? Bisa jadi sih, tapi gak tahu kapan.

Pertengahan tahun 2016 tepatnya bulan Mei, gw lihat postingan akun instagram Coldplay yang mengatakan bahwa mereka bakal adain konser di Australia. Wah, ini kesempatan gw buat nonton konsernya sekalian traveling ke Australia. Langsung aja gw beli tiket konsernya secara online. Urusan tiket pesawat, visa, dan lain-lain gw pikirin belakangan. Soalnya gw mikir pasti beli tiket konsernya bakal rebutan nih. Bener aja, gw gagal beli. Tiket hari pertama di Sydney dan Melbourne habis terjual. Untungnya, konsernya ditambah satu hari sehubungan banyaknya manusia-manusia yang jiwanya haus akan hentakan-hentakan lagu Coldplay. Dan tiket Coldplay Sydney berhasil gw dapetin! Pasti yang banyak beli tiketnya ini orang-orang Indonesia deh. Hmmm...




Ketika itu di benak gw juga tersirat kalau peluang Coldplay buat konser di Asia Tenggara itu kecil. Walaupun ternyata perkiraan gw meleset, nyatanya di bulan Oktober 2016, Coldplay mengumumkan bahwa mereka bakal tour ke Asia Tenggara, tepatnya di Singapura, Thailand dan Filipina. Awalnya agak nyesel juga sih beli tiket konser di Australia, tapi ya sudahlah itung-itung sekalian berpetualang ke Australia.


Transit di Kuala Lumpur

Sebelum nonton konser Coldplay di Sydney tanggal 14 Desember 2016, gw memutuskan untuk berkunjung dulu ke Melbourne. Gw berangkat naik Air Asia tanggal 11 Desember. Gw pilih Air Asia karena budgetnya yang sesuai dengan kantong walaupun harus transit agak lama sekitar 9 jam di Kuala Lumpur. Tapi berkat transit yang lama ini, gw bisa keluar sebentar buat menikmati sejenak kota Kuala Lumpur (KL).

Setibanya di Kuala Lumpur International Airport 2 (KLIA2), gw langsung bergegas turun ke level 1 (transportation hub) buat beli tiket SkyBus. Tujuannya adalah KL Sentral. Selain SkyBus ada juga Aerobus yang sama-sama beroperasi 24 jam. Jika ada budget lebih dan butuh waktu yang cepat, kita bisa menggunakan trasnportasi kereta jika hendak berkunjung ke KL Sentral. Perjalanan menggunakan Bus menuju KL Sentral menghabiskan waktu kurang lebih sekitar 70 menit dengan harga 11 RM.

Setelah tiba di KL Sentral, kita bisa menggunakan transportasi gratis yang bernama GOKL City Bus. Yes, bus ini menghubungkan beberapa titik turun naik penumpang di kota KL.


Rute GO KL City Bus
Monorail di KL

KL City

Ini adalah pertama kalinya gw menginjakkan kaki di KL. Yang gw lihat, kota nya tertata rapi dan sistem transportasinya sudah nyaman banget. Well, rasanya gw harus balik lagi suatu saat nanti biar lebih lama dan puas menjelajahi KL.


Melbourne yang Sejuk

Perjalanan udara dari KL menuju Melbourne menghabiskan sekitar 7 jam. Gw tiba di Bandara International Melbourne sekitar jam 9.20 pagi (waktu setempat ya). Keluar dari pesawat, seluruh penumpang akan diarahkan ke bagian imigrasi buat dicek visa, paspor dan barang bawaannya. Hal yang menarik adalah ketika gw diperiksa di bagian imigrasi. Ternyata orang imigrasinya bisa bahasa Indonesia. Dengan fasihnya dia bilang ke gw, "Oh, Indonesia. Wah banyak orang Indonesia datang kemari. Mau nonton Coldplay ya?". Bisa bayangin gak ekspresi gw saat itu? Gw kaget dan bingung mau jawab pakai bahasa Indonesia atau Inggris. Hahahaha. Ternyata bener ya, sesuai dengan dugaan gw, orang Indonesia banyak yang datang ke Australia buat nonton Coldplay.

Setelah keluar dari imigrasi gw langsung menuju loket SkyBus. Tujuan gw yang pertama adalah Hotel Ibis Style Kingsgate. Harga tiket bus nya sekitar AUD 30.

Walaupun di bulan Desember, Australia sedang dalam musim panas, tapi ternyata Melbourne ini kotanya sejuk. Suhunya sekitar 19 derajat Celcius. Setelah check-in hotel, gw langsung bergegas keluar untuk menjelajahi Melbourne.



Melbourne ini memiliki struktur kota yang mirip seperti Bandung. Di sini akan jarang kita temukan sepeda motor, kalau ada pun yang kita temukan pasti sepeda motor yang ber-cc besar. Masyarakat di Melbourne banyak yang berjalan kaki, naik sepeda atau naik trem dan bus. Yes, sarana public transportation di Melbourne sangat nyaman dan aman. Beberapa trem yang jalurnya di dalam kota juga gratis. Jadi kalau berkeliling kota Melbourne bisa menggunakan trem yang gratis. Hehehehe.


Tempat parkir khusus sepeda di Melbourne

Di Melbourne, Orang-orang kantoran yang berjas dan berdasi pun banyak yang menggunakan public transportation. Beda banget sama di Jakarta, ya mungkin karena sarana public transportation di Jakarta yang belum nyaman ya, atau pemikirannya yang beda ya, kalau bawa mobil lebih keren gitu. Hahahaha.

Gw makan siang di sebuah restoran yunani yang bernama Stalactities. Sesuai dengan nama nya, atap langit-langit di restoran ini dirancang seperti stalaktit. Oh iya, porsi makanan di Melbourne itu sangat besar. Jadi kalau kalian berkunjung kemari mending beli satu makanan buat berdua, daripada terbuang mubazir. Kan bisa hemat juga, ya gak? :)
Harga air mineral dalam kemasan sangat mahal di Melbourne. Jadi kalau kalian makan di restoran atau cafe, pesan aja tap water, gratis kok,  bisa refill karena nanti dikasih satu pitcher. Di beberapa titik tertentu, di pinggir jalan atau taman, kita bisa menemukan pengisian tap water. Saran gw bawa botol minum, jadi kita bisa isi air gratis dari tap water. :)

Destinasi berikut nya adalah Brighton Beach. Itu loh Pantai yang ada rumah warna-warni alias bathing box. Untuk menuju kesana, gw menggunakan kereta dari Stasiun Flinders menuju Stasiun Sandringham, lalu nanti turun di Stasiun Brighton Beach. Perjalanannya memakan waktu kurang lebih 25 menit.

Flinders Station
Sepanjang perjalanan menuju Brighton Beach, kita akan melewati dan berhenti di beberapa stasiun kereta, dimana arsitektur atau bentuk stasiun nya keren-keren. Oh iya, jadwal keberangkatan kereta di Melbourne semuanya on time. Di stasiun, ada papan penujuk waktu yang akan memberitahukan berapa menit lagi kereta akan tiba. Gw membayangkan kalau sistem kereta di Indonesia kayak gini dan stasiun nya juga dirancang seperti ini. Pasti keren. 

Stasiun kereta


Setibanya di Stasiun Brighton Beach, kita akan langsung disuguhkan oleh pemandangan dari pantai Brighton. Tapi untuk menuju lokasi utama pantai yang ada bathing box warna-warni tersebut, kita harus jalan kaki selama kurang lebih 30 menit. Lumayan lah olahraga dikit. :)

Brighton Beach ini merupakan kawasan elite di Melbourne. Makanya jangan heran sepanjang jalan di sana, kita bisa melihat banyak rumah-rumah besar mewah. Kita juga bisa menemukan beberapa taman indah untuk spot foto, dan tentunya ada tap water. :)


Kawasan elite Brighton Beach

Pantai Brighton Beach ini terkenal karena bathting box nya yang warna warni. Makanya tak heran banyak wisatawan yang tertarik untuk mengunjungi pantai ini. Fungsi dari rumah warna-warni itu adalah sebagai tempat beristirahat atau berganti baju ketika berkunjung ke pantai tersebut. Tentunya bukan untuk umum melainkan khusus buat sang pemiliknya saja. Bathing box ini hanya dijual dan dimiliki oleh penduduk lokal saja. Jadi gw gak bisa deh investasi di sini. Hahahahaha. (Sok banget gw, siapa loe Bay!)

Bathing Box di Pantai Brighton
Pantai Brighton

Setelah kembali ke Stasiun Flinders lagi, gw berniat mengunjungi gereja St. Paul's Cathedral yang berlokasi tidak jauh dari stasiun Flinders. Tapi ternyata jam kunjungan buat turis nya sudah ditutup. Jadi gw cuma bisa foto tampak luarnya saja.


St Paul's Cathedral

Setelah gagal masuk ke gereja St. Paul's Cathedral, gw langsung menuju ke Federation Square yang terletak persis di seberangnya. Federation Square ini adalah kawasan seni dan kreatif di Melbourne. Banyak kegiatan atau acara yang digelar di sini, seperti festival seni, budaya, film bahkan olahraga.

Bangunannya sangat unik, dimana dikelilingi oleh dinding-dinding kaca. Di sebelah timurnya, kita bisa menemukan taman tepi sungai yang bernana Birrarung Marr. Di sini, gw bersantai sejenak sambil menikmati es krim.

Karena gw emang suka seni, gw melanjutkan perjalanan gw menuju tembok grafiti yang terkenal di Melbourne. Yes, Hosier Lane. Tempat ini adalah gang di tengah kota yang dipenuhi oleh cat warna-warni ala grafiti. Mencoret-coret tembok di gang ini memang diijinkan dan tidak dilarang, malah menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk mengabadikan nya dalam foto. Selain Hoiser Lane, di Melbourne ada gang lain yang dijadikan sarana grafiti yaitu, Rutledge Lane, Union Lane, Caledonian Lane, dan Centre Place. Semua gang tersebut memang sengaja dirancang oleh pemerintah setempat untuk dijadikan gang seni jalanan grafiti.

Gang Seni Jalanan Grafiti

Hosier Lane

Di Melbourne, jam 19.00 malam masih terang loh. Matahari baru tenggelam sekitar pukul 20.30. Di sini orang-orang nya work-life balance. Meskipun pukul 18.00 masih terang, tapi beberapa toko-toko sudah tutup. Setelah dari Hosier Lane, gw beranjak untuk menikmati kuliner di Lygon Street. Di sini terkenal dengan kuliner Italia nya. Menu yang gw pesan adalah pizza. Tapi saran nih dari gw, kalau pesan makanan jangan lupa baca rincian ingredients nya, atau langsung tanya ke pelayan nya. Gw saking laparnya, langsung main pesan aja. Eh, ternyata pizza yang gw pesan asin banget. Hahahaha. Jadi gak nikmat deh makannya.


Pizza yang asin

Dari Lygon Street, gw kembali ke hotel untuk beristirahat karena besok pagi gw akan berangkat ke Sydney. Kunjungan gw ke Melbourne ini memang singkat dan gw merasa belum puas. Suatu saat nanti, gw pasti akan kembali lagi buat menjelajahi Melbourne.


Sydney: Hot and Sexy

Pagi hari, 13 Desember 2016 setelah check-out dari hotel, gw bergegas menuju bandara menggunakan SkyBus. Untungnya letak halte Bus nya tidak terlalu jauh dari hotel, bisa jalan kaki sekitar 15 menit.

Dari Melbourne ke Sydney gw menggunakan pesawat Jet Star. Layaknya antar propinsi di Indonesia, penerbangan Melbourne ke Sydney adalah penerbangan domestik. Di Bandara Melbourne, gw bertemu dengan seorang mahasiswi dari Indonesia yang sedang menempuh pendidikan S2 di Monash University dengan beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) dari Pemerintah Indonesia, wow keren nih cewek. Kami sempat ngobrol sebentar, dia memilih nonton konser Coldplay di Sydney karena kehabisan tiket konser Melbourne.

Waktu tempuh perjalanan dari Melbourne ke Sydney adalah sekitar 1 jam 20 menit. Setibanya di Bandara Sydney, gw langsung memesan taxi airport shuttle service yang menyediakan jasa antar jemput bandara-hotel, nama taxi nya Redy2Go. Jadi nanti ketika gw pulang ke Indonesia tanggal 16 Desember akan dijemput juga dari hotel menuju ke bandara.

Di Sydney, gw menginap di Song Hotel Sydney (dulu bernama Y Hotel Hyde Park). Setelah check-in, gw langsung keluar lagi buat menjelajah kota Sydney. Siang itu, kota Sydney panas banget, suhunya sekitar 34 derajat celcius. Pusat kota Sydney ini lebih mirip seperti Jakarta, dipenuhi dengan orang-orang pekerja kantoran. Namun tata kotanya bagus, sarana public transportation nya pun juga bagus. Sama seperti di Melbourne, masyarakat di Sydney juga hobi berjalan kaki dan menggunakan public transportation. Hal yang unik di Sydney, di setiap lampu merah terdapat tombol yang disediakan untuk para pejalan kaki. Jadi ketika tombol dipencet, maka otomatis dalam beberapa detik kemudian lampu lalu lintas akan berubah menjadi merah, sehingga semua kendaraan yang melintas akan berhenti. Bisa gak ya diaplikasikan di Jakarta?

Hotel gw berlokasi di dekat Stasiun Museum. Yes, stasiun keretanya bernama Stasiun Museum. Posisinya memang berdekatan dengan Museum of Sydney. Sayangnya saat itu museumnya sedang direnovasi jadi tidak menerima kunjungan.

Tujuan gw berikutnya adalah Sydney Opera House. Perjalanan menuju kesana dapat menggunakan kereta. Sama seperti KRL di Jakarta, sistem pembayaran kereta di Sydney juga menggunakan kartu. Kita bisa membeli kartu nya di mini market yang terdapat di sekitar stasiun kereta.

Setelah membeli kartunya, gw langsung naik kereta dari Stasiun Museum menuju Stasiun Circular Quay. Setelah keluar dari Stasiun Circular Quay, kita bisa langsung melihat pemandangan Circular Quay Harbour. Dari kejauhan juga terlihat Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge.


Circular Quay Harbour

Di siang hari yang super panas itu, entah mengapa gw merasa kok Sydney Opera House ini tampak biasa aja ya. Hahahahaha. Sepertinya dia akan tampak keren di malam hari dengan lampu warna-warni. Gw menyesal karena ketika itu gw gak masuk ke dalamnya, padahal kata orang-orang di dalamnya keren sih. Nanti suatu saat gw bakal balik lagi deh buat lihat isi di dalam Sydney Opera House.

Dari kejauhan tampak Sydney Opera House

Kita bisa menemui tempat-tempat bagus buat dikunjungi di sekitar Circulay Quay Harbour ini. Selain Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge, ada Museum of Contemporary Art Australia (MCA) yang gratis untuk dikunjungi.

Sesuai dengan namanya, MCA ini adalah museum yang dibuat untuk memperkenalkan seni kontemporer dari Australia dan seluruh dunia. Di dalam museum ini terdapat berbagai macam varian pameran yang memiliki unsur kontemporer, mulai dari patung, artefak, dekorasi, seni gambar, dan sebagainya.


Pameran di MCA

MCA


Keluar dari MCA, gw langsung menuju The Rocks, sebuah kawasan kota tua di Sydney, yang lokasinya masih berdekatan dengan Circular Quay. Kita akan menemukan perpaduan jalanan batu bulat dan deretan bangunan tua abad 18. Sekarang beberapa bangunan tua itu dialihfungsikan menjadi resto, bar dan toko butik. Kawasan bersejarah ini sangat penting bagi pemerintah Australia, sehingga dijaga kelestariannya dan sekarang menjadi objek wisata favorit bagi para wisatawan.

Jika ingin mengenal lebih dalam The Rocks, kita bisa mengunjungi The Rocks Discovery Museum. Di dalam museum ini kita bisa melihat cerita The Rocks dalam 4 era bersejarah. Kita juga bisa melihat kumpulan artefak di dalam museum ini.

The Rocks Discovery Museum

Kawasan The Rocks

Setelah belajar sejarah di museum, gw bergegas mencari tempat untuk memuaskan rasa lapar. Akhirnya atas rekomendasi seorang teman, gw mencoba makan siang di Pancakes On The Rocks.
Sesuai dengan namanya, menu yang wajib dicicipi adalah pancakes! Dan rasanya, wow...enak banget!

Pancakes On The Rocks

Keesokan paginya tanggal 14 Desember, sebelum meluncur ke konser Coldplay di sore hari, gw sempatkan diri buat mengunjungi beberapa tempat lagi di Sydney. Berbeda dengan hari pertama kemarin, di hari kedua ini cuaca Sydney agak mendung dan gerimis. Dari hotel, gw berjalan kaki menuju Gereja St Mary's Cathedral Sydney. Gereja ini adalah gereja katolik Roma terbesar di Australia. Semua orang dipersilahkan masuk ke dalam secara gratis. Di dalam nya kita akan dibuat takjub akan kemegahan arsitektur gereja ini.


St Mary's Cathedral (tampak luar)


St Mary's Cathedral (tampak dalam)

Beranjak dari St Mary's Cathedral, gw langsung berjalan kaki menuju ke Museum Art Gallery of New South Wales (AGNSW) yang berlokasi tak jauh dari gereja. Di Australia, kita bisa menemukan banyak museum. Apalagi museum yang berkaitan dengan seni dan kebudayaan. Sepertinya Pemerintah Australia memang sangat mengapresiasi seni setempat dan dunia. Museum AGNSW ini didirikan sejak tahun 1897. Kita bisa menemukan berbagai macam koleksi lukisan dan patung yang langka dari berbagi penjuru dunia di dalam museum ini secara gratis.


Koleksi patung di Museum AGNSW



Setelah puas menjelajahi isi museum, gw kembali ke hotel untuk beristirahat dan bersiap-siap menuju konser Coldplay sore harinya di Allianz Stadium Sydney.


Coldplay: A Head Full Of Dreams

Coldplay akan naik ke panggung pukul 20.00 waktu setempat, tapi sebelum itu akan ada penampilan dari artis-artis pembuka dan open gate akan dimulai pukul 17.30. Gw sudah keluar dari hotel dari pukul 16.00 menuju Allianz Stadium menggunakan taxi yang menghabiskan waktu tempuh kurang lebih 15 menit.

Sesampai disana, Allianz Stadium sudah dipenuhi oleh banyak orang yang akan menonton konser. Seketika itu juga gw merasakan euforia yang luar biasa, padahal konsernya aja belum dimulai. Dasar kampungan ya gw, hahahahaha. Para penonton sudah berbaris mengantri di gate masing-masing sesuai yang tertera di tiket. Para panitia sibuk membagi-bagikan gelang kepada semua penonton. Gelang tersebut nantinya akan menyala warna-warni mengikuti irama lagu ketika konser berlangsung. Keren nya lagi, sistem masuk gate nya menggunakan barcode. Jadi setiap orang akan men-scan sendiri tiket barcodenya dan secara otomatis pintu akan terbuka.

Allianz Stadium sudah dipenuhi penonton

Perasaan haru timbul saat Coldplay naik ke panggung dan menyanyikan "A Head Full of Dream" sebagai lagu pertamanya. Gw gak tau waktu itu rasanya antara pengen nangis dan tertawa bahagia. Seperti mimpi, seakan gak percaya kalau gw bener-bener sedang nonton konser Coldplay. Gw saat itu merinding. Rasanya begitu berbeda dibandingkan dengan nonton konser musik lainnya. Benar-benar penampilan yang luar biasa. Aksi panggung yang apik dipadu dengan teknik lighting yang mampu membius penonton untuk ikut terus bernyanyi bersama dari awal sampai akhir konser. Gelang yang kita pakai pun bisa berubah warna mengikuti irama lagunya. Ketika lagu "Yellow" dinyanyikan maka gelang yang kita pakai pun berubah warna menjadi kuning. Seluruh Stadium seakan berubah menjadi lautan berwarna kuning. It's so amazing day!

Konser Coldplay

Coba kalian tonton penggalan video konser Coldplay yang gw rekam berikut ini, gw jamin kalian bakal merinding ketika menontonnya, kalau gak merinding, ya berarti coba nonton konsernya secara langsung deh. Hahahahaha.





Konser selesai kira-kira pukul 22.00. Semua orang keluar dari Allianz Stadium dengan teratur, tidak ada yang berdesak-desakan. Gw sangat takjub melihatnya. Malam itu, kerumunan orang keluar dari Allianz Stadium bagaikan ribuan semut yang keluar dari sarangnya. Sebagian besar penonton pulang dengan berjalan kaki, mungkin yang bawa kendaraan hanya 20% saja. Beberapa ruas jalan sengaja ditutup khusus diperuntukkan untuk menampung ribuan pejalan kaki yang keluar dari area konser. Gw pun berjalan kaki menuju hotel. Sepanjang perjalanan ke hotel, gw menemui beberapa polisi yang berpatroli menggunakan kuda. Keren nih, sistem pengamanannya. 

Sampai di kasur, mata gw pun sudah berat, tapi pikiran masih terngiang-ngiang dengan kemeriahan konser tadi. Seperti penggalan lirik di lagu Strawberry Swing nya Coldplay: It's a such a perfect day!




Hujan di hari ketiga

Hari ketiga, Sydney diguyur hujan deras. Jadi gw terpaksa menunggu hujan agak reda sedikit sambil sarapan di hotel. Setelah hujan agak reda, gw lalu bergegas keluar. Destinasi gw hari ini adalah Sea Life Sydney Aquarium dan Wildlife Sydney Zoo. Lokasi kedua tempat ini saling bersebelahan. Untuk menuju kesana, gw naik kereta dari Stasiun Museum.

Sea Life Sydney Aquarium ini agak mirip seperti Sea World di Jakarta cuma ya lebih keren dan lebih besar aja. Sementara Wildlife Sydney Zoo adalah sebuah kebun binatang indoor yang berisi binatang-binatang khas Australia seperti koala, kanguru, tasmanian devil dan sebagainya. Di kebun binatang ini, kita juga bisa foto bareng koala loh. Kalau liburan bersama keluarga ke Sydney, wajib kemari deh.


Sea Life Sydney Aquarium

Foto Bareng Koala

Tanggal 16 Desember, Sydney kembali diguyur hujan deras. Langit seakan menangis karena gw akan pulang kembali ke Indonesia (Lebay banget sih gw). Hari itu gw menggunakan maskapai Qantas, tanpa transit langsung menuju Bandara Soekarno Hatta.

Itulah sekilas cerita singkat gw ketika nonton konser Coldplay sekaligus traveling di Melbourne dan Sydney. Gw merasa kurang puas sih buat menjelajahi dua kota itu. Suatu saat nanti, gw bakal kembali lagi ke Australia, tentunya dengan cerita yang lebih menarik!

Terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk membaca.

Sampai jumpa suatu saat nanti.

Oh iya gw juga mau mengucapkan Selamat Natal dan Tahun Baru ya.

Salam senyum,

Bayu